Minggu, 01 November 2009

Asuhan Keperawatan pada Klien Leukemia

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem hematology tersusun atas darah dan tempat darah di produksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limpe. Darah adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain karena berbentuk cairan.
Darah merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat transportasi serta memiliki banyak kegunaan lainnya untuk menunjang kehidupan. Tanpa darah yang cukup seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan dan bahkan dapat mengakibatkan kematian. Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan darah) dan 45% sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah yang ada pada tubuh kita yaitu sekitar sepertigabelas berat tubuh orang dewasa atau sekitar 4 atau 5 liter.
Darah berbentuk cairan yang berwarna merah, agak kental dan lengket. Darah mengalir di seluruh tubuh kita, dan berhubungan langsung dengan sel-sel di dalam tubuh kita. Darah terbentuk dari beberapa unsur, yaitu plasma darah, sel darah merah, sel darah putih dan keping darah.
Leukosit atau sel darah putih adalah sel darah Yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 5000-9000 sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang dari 5000 disebut leukopenia. Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asingan. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis lekosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan penyambung. Jumlah leukosit per mikroliter darah, pada orang dewasa normal adalah 4000-11000, waktu lahir 15000-25000, dan menjelang hari ke empat turun sampai 12000, pada usia 4 tahun sesuai jumlah normal.

Apabila terjadi peningkatan atau penurunan dari sel darah putih akan terjadi kelainan haematologis, diantaranya yaitu leukemia. Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ nonhematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.
Leukemia biasanya menyerang lebih sering pada anak laki-laki dari pada anak perempuan setelah usianya lebih dari 1 tahun. Sebelum tahun 1948, anak dengan leukemia hidupnya hanya 2 – 3 bulan. Namun, sekarang ini angka harapan hidup pada anak dengan leukemia hamper 80%.
Permasalahan yang timbul pada leukemia antara lain : leukemia merupakan penyakit terminal dan terganggung pada pemberian transfuse darah serta kemoterapi. Pilek tidak sembuh-sembuh, pucat, lesu, demam, anorexia, berat badan menurun, ptechie, memar tanpa sebab, nyeri pada tulang dan persendian nyeri abdomen, lymphe denophaty, hematosplenomegaly. Pasien dengan leukemia juga hidupnya tergantung dengan orang lain dan sering mengalami gangguan harga diri sehingga kelompok tertarik untuk mempelajari teori dan konsep-konsep yang terkait dengan leukemia secara lebih dalam melalui tinjauan kepustakaan, browsing internet serta bimbingan dengan pembimbing yang dituangkan dalam bentuk makalah ilmiah dengan judul : “Asuhan Keperawatan pada Klien Leukimia.

B. Tujuan penulisan
a. Tujuan umum
Setelah menyusun makalah ini mahasiswa mandapatkan gambaran tentang asuhan keperawatan pada klien leukemia dengan pendekatan proses keperawatan.
b. Tujuan Khusus
1. Memahami pengertian dari Leukimia
2. Memahami etiologi dari leukemia
3. Memahani patofisiologi dari leukemia
4. Mengetahui jenis-jenis dari Leukimia
5. Mengetahui bagaimana manifestasi klinik dari leukemia
6. Memahami pemeriksaan diagnostik dari leukemia
7. Memahami bagaimana penatalaksanaan medis pada klien dengan Leukimia
8. Dapat melakukan pengkajian pada klien Leukimia
9. Dapat merumuskan diagnosa terkait dengan klien Leukimia
10. Dapat menyusun perencanaan tindakan pada klien Leukimia
11. Dapat menyusun criteria evaluasi setelah implementasi pada klien Leukimia.

C. Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode deskripsi. Dimana penulis memaparkan teori-teori mengenai Leukimia dan Asuhan Keperawatan Leukimia yang berupa naratif melalui studi kepustakaan dan browsing internet.

D. Sistematika Penulisan

Makalah ini terdirir dari 3 bab yang disusun secara sistematis dengan urutan sebagai berikut.
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan, ruang lingkup, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II : Landasan teoritis tentang leukemia yang meliputi pengertian leukemia, etiologi,patofisiologi, jenis-jenis dari leukemia, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan serta asuhan keperawatannya.
Bab III : Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran
Daftar Pustaka


BAB II
TINJAUAN TEORITIS


A. Konsep Dasar Medis Leukemia
1. Pengertian
Leukemia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasi patologis sel hemopetik muda yang di tandai oleh adanya kegagalan sumsum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi kejaraingan tubuh lain (Arif Manjoer, 495: 2000)
Leukemia adalah prouferasi dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya berakhir fatal. (Ika, 469: 2000)
Leukimia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sum-sum tulang menggantikan elemen sum-sum tulang normal (Smeltzer, S C and Bare, B.G, 2002 : 248 )
Berdasarkan dari beberapa pengetian diatas maka kami berpendapat bahwa leukimia adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh prolioferasi abnormal dan ganas dari sel-sel leukosit yang menyebabkan terjadinya kanker pada alat pembentuk darah., jumlahnya berlebihan dan dapat menyebabkan anemia, trombositopenia dan diakhiri dengan kematian.

2. Klasifikasi
a. Leukemia Mielogenus Akut
AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit.
b. Leukemia Mielogenus Kronis
Tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.
c. Luekemia Limfositik Akut
Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal.

d. Leukemia Limfositik Kronis
Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.

3. Etiologi
a. Faktor Instrinsik
1) Keturunan dan Kelainan Kromosom
2) Defisiensi Imun dan Defisiensi Sumsum Tulang
b. Faktor Ekstrinsik
1) Faktor Radiasi
2) Bahan Kimia dan Obat-obatan.
3) Infeksi Virus

4. Patofisiologi


Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang kompleks). Penyusunan kembali kromosom (translokasi kromosom) mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga sel membelah tak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga bisa menyusup ke dalam organ lainnya, termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal dan otak.

5. Manifestasi Klinis
a. Aktivitas : kelelahan, kelemahan, malaise, kelelahan otot.
b. Sirkulasi :palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membran mukosa pucat.
c. Eliminasi : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang, feses hitam, penurunan haluaran urin
d. Integritas ego : perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, mudah terangsang, ansietas.
e. Makanan/cairan: anoreksia, muntah, perubahan rasa, faringitis, penurunan BB dan disfagia
f. Neurosensori : penurunan koordinasi, disorientasi, pusing kesemutan, parestesia, aktivitas kejang, otot mudah terangsang.
g. Nyeri : nyeri abomen, sakit kepala, nyeri sendi, perilaku hati-hati gelisa
h. Pernafasan : nafas pendek, batuk, dispneu, takipneu, ronkhi, gemericik, penurunan bunyi nafas
i. Keamanan : gangguan penglihatan, perdarahan spontan tidak terkontrol, demam, infeksi, kemerahan, purpura, pembesaran nodus limfe.
j. Seksualitas : perubahan libido, perubahan menstruasi, impotensi, menoragia

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Hitung darah lengkap : menunjukkan normositik, anemia normositik
b. Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100ml
c. Retikulosit : jumlah biasaya rendah
d. Trombosit : sangat rendah (< 50000/mm)
e. SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP immatur
f. PTT : memanjang
g. LDH : mungkin meningkat
h. Asam urat serum : mungkin meningkat
i. Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut dan mielomonositik
j. Copper serum : meningkat
k. Zink serum : menurun
l. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan
m. Sumsum tulang

7. Penatalaksanaan Medis
a. Transfusi darah, jika kadar hb kurang dari 6 9% pada trombositopenia yang berat dan perdarahan massif dapat diberikan trombosit.
b. Pelaksanaan Kemoterapi
Terdapat 3 fase pelaksanaan kemoterapi
 Fase Induksi : Dimulai 4-6 minggu setelah diagnosa di tegakan pada fase ini diberikan terapi kortikosteroid (prednison) vinaistim ,dan L-asparagiginasi.
 Fase Profilaksis Sistem Saraf Pusat. Pada fasse ini diberikan terapi methotrexate, cy tarabine, dan hydrocortisone melalui intra thecal untuk mencegah invasi sel leukemia ke otak.
 Konsolidasi : Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisi dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh, secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap.

8. Komplikasi
a. Gagal sumsum tulang
b. Infeksi
c. Hepatomegali
d. Splenomegali
e Limpadenopati
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. PENGKAJIAN
a. Riwayat penyakit : pengobatan kanker sebelumnya
b. Riwayat keluarga : adanya gangguan hematologis, adanya faktor herediter misal kembar monozigot)
c. Kaji adanya tanda-tanda anemia : kelemahan, kelelahan, pucat, sakit kepala, anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat.
d. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia : demam, stomatitis, gejala infeksi pernafasan atas, infeksi perkemihan; infeksi kulit dapat timbul kemerahan atau hiotam tanpa pus
e. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : ptechiae, purpura, perdarahan membran mukosa, pembentukan hematoma, purpura; kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medula: limfadenopati, hepatomegali, splenomegali.
f. Kaji adanya pembesaran testis, hemAturia, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi di sekkitar rektal dan nyeri.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Resiko tinggi infeksi berhubungn dengan menururnnya sistem pertahanan tubuh sekunder gangguan pematangan SDP, peningkatan jumlah limfosit immatur, imunosupresi, peneknan sumsum tulang.
a. Tujuan : pasien bebas dari infeksi
b. Kriteria hasil :
1) Normotermia
2) Hasil kultur negatif
3) Peningkatan penyembuhan
c. Intervensi :
1) Tempatkan pada ruangan yang khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
2) Cuci tangan untuk semua petugas dan pengunjung.
3) Awasi suhu, perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi. Observasi demam sehubungan dengan takikardia, hipotensi, perubahan mental samar.
4) Cegah menggigil : tingkatkan cairan, berikan mandi kompres
5) Dorong sering mengubah posisi, napas dalam dan batuk.
6) Auskultsi bunyi nafas, perhatikan gemericik, ronkhi; inspeksi sekresi terhadap perubahan karakteristik, contoh peningktatan sputum atau sputum kental, urine bau busuk dengan berkemih tiba-tiba atau rasa terbakar.
7) Inspeksi kulit unutk nyeri tekan, area eritematosus; luka terbuka. Besihkan kulit dengan larutan antibakterial.
8) Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan sikat gigi halus.
9) Tingkatkan kebersihan perianal. Berikan rendam duduk menggunakan betadine atau Hibiclens bila diindiksikan.
10) Berikan periode istirahat tanpa gangguan
11) Dorong peningkatan masukan makanan tinggi protein dan cairan.
12) Hindari prosedur invasif (tusukan jarum dan injeksi) bila mungkin.
13) Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium misal : hitung darah lerngkap, apakah SDP turun atau tiba-tiba terjadi perubahan pada neutrofil; kultur gram/sensitivitas.
14) Kaji ulang seri foto dada.
15) Berikan obat sesuai indikasi contoh antibiotik.
16) Hindari antipiretik yang mengandung aspirin.
17) Berikan diet rendah bakteri misal makanan dimasak, diproses

2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan : muntah, perdarahan,diare ; penurunan pemasukan cairan :
mual,anoreksia ; peningkatan kebutuhan cairan : demam, hipermetabolik
a. Tujuan : volume cairan terpenuhi
b. Kriteria hasil :
1) Volume cairan adekuat
2) Mukosa lembab
3) Tanda vital stabil : TD 90/60 mmHg, nadi 100 x/menit, RR 20 x/mnt
4) Nadi teraba
5) Haluaran urin 30 ml/jam
6) Kapileri refill < 2 detik
c. Intervensi :
1) Awasi masukan/haluaran. Hitung kehilangan cairan dan keseimbangna cairan. Perhatikan penurunan urin, ukur berat jenis dan pH urin.
2) Timbang berat badan tiap hari
3) Awasi TD dan frekuensi jantung
4) Evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan kondisi membran mukosa
5) Beri masukan cairan 3-4 L/hari
6) Inspeksi kulit/membran mukosa untuk petekie, area ekimosis; perhatikan perdarahan gusi, darah warna karat atau samar pada feses dan urin; perdarahan lanjut dari sisi tusukan invsif.
7) Implementasikan tindakan untuk mencegah cedera jaringan/perdarahan.
8) Batasi perawatan oral untuk mencuci mulut bila diindikasikan
9) Berikan diet halus.
10) Kolaborasi : Berikan cairan IV sesuai indikasi, Awasi pemeriksaan laboratorium : trombosit, Hb/Ht, pembekuan. Berikan SDM, trombosit, faktor pembekuan. Pertahankan alat akses vaskuler sentral eksternal (kateter arteri subklavikula, tunneld, port implan)
Berikan obat sesuai indikasi : Ondansetron, allopurinol, kalium asetat atau asetat, natrium biukarbonat, pelunak feses.

3. Nyeri berhubungan dengan agen fisikal seperti pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemia; agen kimia pengobatan antileukemik
a. Tujuan : nyeri teratasi
b. Kriteria hasil :
1) Pasien menyatakan nyeri hilang atau terkontrol
2) Menunjukkan perilaku penanganan nyeri
3) Tampak rileks dan mampu istirahat
c. Intervensi :
1) Kaji keluhan nyeri, perhatikan perubahan pada derajat dan sisi (gunakan skala 0-10)
2) Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non-verbal misal tegangan otot, gelisah.
3) Berikan lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stres
4) Tempatkan pada posis nyaman dan sokong sendi, ekstremitas dengan bantal.
5) Ubah posisi secara periodik dan bantu latihan rentang gerak lembut.
6) Berikan tindakan kenyamanan ( pijatan, kompres dingin dan dukungan psikologis)
7) Kaji ulang/tingkatkan intervensi kenyamanan pasien sendiri
8) Evaluasi dan dukung mekanisme koping pasien.
9) Dorong menggunakan teknik menajemen nyeri contoh latihan relaksasi/nafas dalam, sentuhan.
10) Bantu aktivitas terapeutik, teknik relaksasi.
11) Kolaborasi : Awasi kadar asam urat, Berika obat sesuai indikasi : analgesik (asetaminofen), narkotik (kodein, meperidin, morfin, hidromorfon), Agen antiansietas (diazepam, lorazepam)

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, peningkatan laju metabolik
a. Tujuan : pasien mampu mentoleransi aktivitas
b. Kriteria hasil :
1) Peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur
2) Berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan.
3) Menunjukkan penurunan tanda fisiologis tidak toleran misal nadi, pernafasan dan TD dalam batas normal
c. Intervensi :
1) Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas.berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa ganggaun
2) Implementasikan teknik penghematan energi, contoh lebih baik duduk daripada berdiri, pengunaan kursi untuk madi
3) Jadwalkan makan sekitar kemoterapi. Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan berikan antiemetik sesuai indikasi
4) Kolaborasi : berikan oksigen tambahan

5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
a. Tujuan : pasien bebas dari gejala perdarahan
b. Kriteria hasil :
1) TD 90/60mmHg
2) Nadi 100 x/mnt
3) Ekskresi dan sekresi negtif terhadap darah
4) Ht 40-54% (laki-laki), 37-47% ( permpuan)
5) Hb 14-18 gr%
c. Intervensi :
1) Pantau hitung trombosit dengan jumlah 50.000/ ml, resiko terjadi perdarahan. Pantau Ht dan Hb terhadap tanda perdarahan
2) Minta pasien untuk mengingatkan perawat bila ada rembesan darah dari gusi
3) Inspeksi kulit, mulut, hidung urin, feses, muntahan dan tempat tusukan IV terhadap perdarahan
4) Pantau TV interval sering dan waspadai tanda perdarahan.
5) Gunakan jarum ukuran kecil
6) Jika terjadi perdarahan, tinggikan bagian yang sakit dan berikan kompres dingin dan tekan perlahan.
7) Beri bantalan tempat tidur untuk cegh trauma
8) Anjurkan pada pasien untuk menggunakan sikat gigi halus atau pencukur listrik.
6. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan terhentinya aliran darah sekunder adanya destruksi SDM
a. Tujuan : perfusi adekuat
b. Kriteria hasil :
1) Masukan dan haluaran seimbang
2) Haluaran urin 30 ml/jam
3) Kapileri refill < 2 detik
4) Tanda vital stabil
5) Nadi perifer kuat terpalpasi
6) Kulit hangat dan tidak ada sianosis
c. Intervensi :
1) Awasi tanda vital
2) Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat, kelambatan pengisian kapiler
3) Catat perubahan tingkat kesadaran
4) Pertahankan masukan cairan adekuat
5) Evaluasi terjadinya edema
6) Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium ; GDA, AST/ALT, CPK, BUN, Elektrolit serum, berikan pengganti sesuai indikasi, Berikan cairan hipoosmolar

3. EVALUASI
a. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
b. Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-sehari sesuai tingkat kemampuan, adanya laporan peningkatan toleransi aktifitas.
c. Tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.
d. Dapat menyerap makanan dan cairan, anak tidak mengalami mual dan muntah
e. Membran mukosa tetap utuh, ulkus menunjukkan tidak adanya rasa tidak nyaman
f. Masukan nutrisi adekuat
g. Dapat beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan atau menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan, tidak mengeluhkan perasaan tidak nyaman.
h. Kulit tetap bersih dan utuh
i. Dapat mengungkapkan masalah yang berkaitan dengan kerontokan rambut, anak membantu menentukan metode untuk mengurangi efek kerontokan rambut dan menerapkan metode ini dan anak tampak bersih, rapi, dan berpakaian menarik.
j. Keluarga dapat menunjukkan pemahaman tentang prosedur, keluarga menunjukkan pengetahuan tentang penyakit anak dan tindakannya. Keluarga mengekspresikan perasaan serta kekhawatirannya dan meluangkan waktu bersama anak.
k. Keluarga tetap terbuka untuk konseling dan kontak keperawatan, keluarga dan anak mendiskusikan rasa takut, kekhawatiran, kebutuhan dan keinginan mereka pada tahap terminal, pasien dan keluarga mendapat dukungan yang adekuat.

























BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Berdasarkan tinjauan teori yang kami bahas maka kami dapat menyimpulkan bahwa leukimia adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh prolioferasi abnormal dan ganas dari sel-sel leukosit dan perkembangan leukosit serta pendahulunya secara abnormal di dalam darah dan sumsum tulang belakang yang menyebabkan terjadinya kanker pada alat pembentuk darah., jumlahnya berlebihan dan dapat menyebabkan anemia, trombositopenia dan diakhiri dengan kematian. Ada 4 jenis leukimia, yaitu leukemia mielogenus akut, leukemia mielogenus kronis, leukemia ,limfositik kronis, leukemia limfositik akut.
Pada umumya penyebab leukimia tidak diketahui dengan pasti, tetapi ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan penyakit leukimia diantaranya faktor keturunan dan kelainan kromosom, defisiensi imun dan defisiensi sumsum tulang, faktor radiasi, bahan kimia, obat-obatan dan infeksi virus.
Pada leukemia sel-sel berkembang biak dengan cepat dan memiliki rentang umur yang panjang. Namun, mereka tidak mampu melakukan fungsi WBCs dewasa, sehingga mereka tidak efektif dalam mengurangi peradangan atau infeksi atau melayani sebagai sel-sel kekebalan. Sel-sel leukemia meninggalkan sumsum tulang dan berjalan ke dalam sistem sirkulasi, melintasi membran otak dan menyusup ke jaringan tubuh lainnya seperti sistem saraf pusat, testis, kulit, dan saluran pencernaan serta sistem reticuloendothelial (kelenjar getah bening, hati, dan limpa). Kematian paling sering terjadi sebagai akibat pendarahan internal dan infeksi.
Secara umum, manifestasi leukemia adalah hasil dari anemia, infeksi, dan peningkatan perdarahan. Manifestasi anemia termasuk pucat, kelelahan, takikardia, malaise, lesu, dan dyspnea. Infeksi, yang dihasilkan dari neutropenia, dimanifestasikan oleh demam, keringat malam, lisan dan faring ulcerations, sinusitis, bronkitis, radang paru-paru, sistitis, abses dari peritonsillar dan daerah perianal, kulit dan kuku infeksi, dan keracunan darah. Peningkatan pendarahan., menyebabkan memar, hematoma, perdarahan dari hidung, gusi, atau kandung kemih, dan terbuka perdarahan gastrointestinal, perdarahan paru, retina dan pendarahan subarachnoid.
Pemeriksaan diagnostik pada klien leukimia meliputi ; Leukosit normal bervariasi antara kurang dari 1000 hingga 100.000 per mm3, sel blast darah tepi, jumlah sel blast normal dari nol hingga 200 x 109 / 1 median antara 15 – 20 x, angka trombosit, sel eritrosit, sumsum tulang, protein darah, lumbang punksi untuk mengetahui apakah sistem syaraf pusat terinfilterasi dan biopsi sumsum tulang. Penatalaksanaan medik pada klien leukimia berupa pelaksanaan kemoterapi dan transfusi darah, penatalaksanaan medis ini juga menimbulkan komplikasi pada klien seperti Gagal sumsum tulang, Infeksi, hepatomegali, splenomegali, limpadenopati.
Dalam menberikan perawatan, perawat harus berhati-hati agar tidak terjadi komplikasi yang terjadi pada klien seperti infeksi pada tempat pemasangan alat-alat invasif. Maka dari itu Askep yang dapat di berikan pada klien leukimia yaitu di awali dengan pengkajian meliputi pengkajian riwayat penyakit, riwayat keluarga, adanya tanda-tanda anemia, adanya tanda-tanda leukopenia, adanya pembesaran testis, hematuria, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi di sekitar rektal serta nyeri dan kaji adanya tanda-tanda trombositopenia. Dan diagnosa yang dapat di tegakkan seperti ; Resiko tinggi infeksi berhubungn dengan menururnnya sistem pertahanan tubuh sekunder gangguan pematangan SDP, peningkatan jumlah limfosit immatur, imunosupresi, peneknan sumsum tulang. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan (berlebihan : muntah, perdarahan,diare ; penurunan pemasukan cairan: ) mual,anoreksia ; peningkatan kebutuhan cairan : demam, hipermetabolik. Nyeri berhubungan dengan agen fisikal seperti pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemia; agen kimia pengobatan antileukemik. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, peningkatan laju metabolik. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan terhentinya aliran darah sekunder adanya destruksi SDM.
Intervensi dan evaluasi di lakukan berdasarkan diagnosa sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang telah di tetapkan khusus bagi klien leukimia.



B. Saran
1. Meningkatkan mutu makalah ilmiah yang kelompok buat untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi pembaca khususnya.
2. Untuk mahasiswa kelompok lebih berpartisipasi dalam pembuatan makalah ilmiah ini agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan meringankan dalam pembuatan makalah agar selesai tepat pada waktunya.
3. Perpustakaan untuk tidak tutup lebih cepat dan menambahkan waktu supaya kami dapat mencari sumber-sumber dalam pembuatan makalah ilmiah ini.


















DAFTAR PUSTAKA


Betz, Cecily L. & Sowden. 2002. Keperawatan Pediatri, Edisi 3. Jakarta: EGC.

Brunner dan Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Badah, edisi 8. Jakarta: EGC.

Carpenito, Linda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta: EGC.

Doenges, ME. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 6. Jakarta: EGC.

Galle, D .& Charate. 1996. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 2. Jakarta: EGC.

Sacharin Rosa M. 2004. 2004. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Staf Pengajar IKA UI. 2000. Ilmu Kesehatan Anak 1. Jakarta: EGC.

http://healthreference-ilham.blogspot.com/2008/07/kondas-leukimia.html













KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah dengan judul ”Askep Pada Klien Leukimia”.
Makalah ilmiah ini disusun dalam rangka memenuhi susunan syarat tugas Keperawatan Medikal Bedah Program Studi Keperawatan Kimia 17.
Dalam penyusunan makalah ilmiah ini kami banyak memenuhi kesulitan dan hambatan, namun berkat karunia-Nya serta bimbingan dan dorongan moril dari berbagai pihak makalah ini dapat terselesaikan. Untuk itu pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Dewi Lusiani SKep. selaku pembimbing mata ajar KMB
2. Teman-teman yang membantu dan memberikan semangat dalam pembuatan makalah ilmiah ini.

Semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal. kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, hal ini karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kami dalam menyusunnya. Untuk itu dengan senang hati dan tangan terbuka, kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ilmiah ini.
Akhir kata, kami sampaikan, semoga makalah ilmiah ini berguna bagi profesi keperawatan khususnya, sebagai sumbang fikir dalam rangka meningkatkan perbaikan mutu dalam mempelajari asuhan keperawatan pada klien leukimia

Jakarta, 14 Oktober 2009

Penulis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar